Beranda KOTA PEKALONGAN Kenalkan Kuliner Khas Pekalongan, Walikota Aaf Ajak Menhub Cicipi Nasi Megono

Kenalkan Kuliner Khas Pekalongan, Walikota Aaf Ajak Menhub Cicipi Nasi Megono

20
0
SANTAP NASI MEGONO : Menhub Dudy Purwagandhi, bersama Walikota Pekalongan Mas Aaf, mencicipi Nasi Megono khas Pekalongan, disela-sela kunjungan Menhub ke Kota Pekalongan. Foto : (mediapekalongan.com)

PEKALONGAN, mediapekalongan.com – Kunjungan kerja Menteri Perhubungan (Menhub) RI Dudy Purwagandhi ke Kota Pekalongan menyisakan cerita hangat yang tak tercatat di agenda resmi.

Disela peninjauan jalur kereta api (KA) yang sempat terdampak banjir, rombongan Kementerian Perhubungan (Kememhub) justru berhenti di warung sederhana. Di sanalah, sang Menteri “jatuh cinta” pada cita rasa.

Berjalan kaki usai meninjau kawasan sekitar Stasiun KA Pekalongan, Menhub bersama rombongan diajak Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid mampir ke Warung Pojok Ibu Hj. Mufadhilah, tepat di depan pintu keluar stasiun.

Warung yang buka 24 jam itu dikenal luas sebagai penjaga rasa kuliner khas Pekalongan. Di meja-meja kayu sederhana, Menhub duduk santai bersama wali kota, jajaran direksi PT KAI, Direktur Jenderal Perkeretaapian, Direktur Keselamatan Perkeretaapian, Kapolres Pekalongan Kota, serta sejumlah deputi Kemenhub.

Tanpa sekat protokoler, mereka menikmati hidangan khas yang telah melegenda, nasi megono, soto tauto, garang asem, cumi, tahu, dan tempe goreng.

Sendokan demi sendokan nasi megono—olahan nangka muda berbumbu kelapa—habis tanpa sisa. Bahkan, suasana kian cair saat Menhub terlihat menambah nasi, tanda kuliner rakyat Pekalongan ini benar-benar menggoda selera.

Wali Kota Pekalongan yang akrab disapa Mas Aaf mengungkapkan, singgahnya rombongan ke Warung Pojok bukan kebetulan.

Dirinya sengaja mengajak Menhub untuk merasakan langsung kekayaan rasa kuliner Pekalongan.

“Saya memang sengaja mengajak Pak Menteri mampir ke warung ini. Kebetulan melewati. Ini kuliner khas Pekalongan. Sederhana, tapi rasanya otentik dan dijamin nikmat,” terang Aaf.

Menurutnya, Pekalongan tidak hanya dikenal lewat batik dan sejarahnya, tetapi juga lewat dapur rakyat yang setia menjaga rasa dari generasi ke generasi. Megono dan soto tauto adalah identitas kota yang lahir dari keseharian warganya.

“Walaupun warungnya sederhana, rasanya tidak sederhana. Dan tadi bisa dilihat sendiri, rombongan Kementerian Perhubungan semuanya suka. Bahkan ada yang sampai nambah nasi,” tuturnya sambil tersenyum.

Momen santai itu berlangsung hampir satu jam. Rombongan larut dalam obrolan ringan, menikmati sajian tanpa formalitas.

Sebelum akhirnya beranjak menuju Stasiun Pekalongan untuk kembali ke Jakarta menggunakan kereta api yang telah disiapkan.

Warung Pojok Ibu Hj. Mufadhilah memang bukan tempat asing bagi para pelintas kota. Berlokasi di Jalan Gajah Mada Barat, Kramatsari, Pekalongan Barat (sebelah barat Stasiun Pekalongan-red), warung ini telah puluhan tahun melayani penumpang kereta dan warga lokal.

Menu andalannya selain megono adalah sego otot, soto tauto dengan pilihan daging atau jeroan, serta aneka masakan rumahan dengan harga terjangkau, mulai Rp 8.000 hingga Rp 25.000 per porsi.

Bagi Mas Aaf, pengalaman makan bersama di warung rakyat justru menjadi cara paling jujur mengenalkan Pekalongan.

“Kadang yang membekas itu bukan seremoni besar, tapi pengalaman kecil seperti ini. Duduk bersama, makan megono, ngobrol santai. Itulah Pekalongan,” tandasnya.

Kunjungan Menhub kali ini tak hanya meninggalkan catatan teknis soal transportasi dan banjir, tetapi juga kisah sederhana tentang rasa, kehangatan, dan kuliner rakyat yang mampu menyatukan siapa saja—bahkan seorang menteri—di meja makan yang sama dengan penuh makna.

Artikulli paraprakPemkot Pekalongan – Kantor Imigrasi Komitmen Tingkatkan Pelayanan Keimigrasian Prima
Artikulli tjetërBanjir Akibat Curah Hujan Tinggi, Pemkot Siapkan Sejumlah Lokasi Pengungsian dan Optimalkan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Warga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini