Beranda KOTA PEKALONGAN Banjir Meluas, Kota Pekalongan Ditetapkan Tanggap Darurat Bencana Banjir

Banjir Meluas, Kota Pekalongan Ditetapkan Tanggap Darurat Bencana Banjir

16
0
CEK PENGUNGSIAN : Walikota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid mengecek kondisi warga terdampak banjir di lokasi pengungsian di Aula Kecamatan Pekalongan Barat, Minggu 18 Januari 2026. Foto : (mediapekalongan.com/dok)

PEKALONGAN, mediapekalongan.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Banjir menyusul jebolnya tanggul di sejumlah titik serta melonjaknya jumlah warga terdampak yang mengungsi. Keputusan strategis tersebut diambil langsung oleh Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid atau yang akrab disapa Aaf, sebagai respons cepat atas kondisi banjir yang semakin kompleks dan dinamis.

“Semalam Saya sudah tetapkan Kota Pekalongan dalam status Tanggap Darurat,” ujar Wali Kota Aaf saat memberikan keterangan kepada wartawan, Minggu (18/1/2026).

Menurutnya, penetapan status tanggap darurat ini menjadi langkah krusial karena membuka akses penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT), sehingga pemerintah daerah memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam penanganan bencana, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.

Aaf menegaskan bahwa, tanpa peningkatan status tersebut, kemampuan pemerintah daerah dalam merespons situasi darurat sangat terbatas, terutama dari sisi anggaran.

“Kalau seperti ini, kemampuan anggaran Dinsos jelas terbatas,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa, dalam beberapa hari terakhir, permintaan bantuan datang bertubi-tubi melalui berbagai jalur. Mulai dari pesan langsung ke ponsel pribadinya, laporan ke Dinas Sosial, hingga permintaan ke BPBD.

“Banyak warga yang langsung WA Saya, datang ke Dinsos, ke BPBD, minta bantuan nasi bungkus dan logistik, dan kita kewalahan,” ujarnya.

Dengan ditetapkannya status tanggap darurat bencana banjir Kota Pekalongan, ia berharap distribusi bantuan logistik, layanan pengungsian, hingga penanganan darurat lainnya dapat dilakukan lebih cepat, terkoordinasi, dan merata.

Lanjutnya, status ini juga menjadi dasar hukum bagi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki.
Situasi banjir di Kota Pekalongan kian diperparah setelah tanggul di wilayah Tirto, Kali Bremi, dilaporkan jebol. Kondisi tersebut berdampak langsung pada sistem pengendalian air yang selama ini mengandalkan pompanisasi.

“Tanggul jebol juga di daerah Tirto, Kali Bremi, jadi belum memungkinkan pompa itu bekerja maksimal,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa, kondisi teknis di lapangan semakin mengkhawatirkan karena beberapa fasilitas vital nyaris terdampak langsung oleh genangan air.

“Bahkan di Tirto ada trafo rumah pompa yang tinggal sekitar 15 sampai 20 sentimeter lagi terendam, dan kami sudah koordinasi dengan PLN,” ungkapnya.

Situasi tersebut membuat upaya pengendalian genangan air menjadi sangat terbatas, sementara debit air terus meningkat akibat curah hujan tinggi dan limpasan dari wilayah sekitar.

Lonjakan jumlah pengungsi menjadi salah satu faktor utama dinaikkannya status bencana banjir Kota Pekalongan. Wali Kota Aaf menyebutkan bahwa, data pengungsi terus berubah karena warga terdampak banjir masih terus berdatangan ke berbagai titik pengungsian.

“Yang tercatat sekarang sekitar 2.000 orang, tapi ini masih terus bertambah,” katanya.

Sejumlah lokasi pengungsian utama dilaporkan mulai penuh. Di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat, kepadatan pengungsi menjadi yang tertinggi.

Masjid Al-Karomah disebut sebagai salah satu titik pengungsian besar yang kini hampir mencapai kapasitas maksimal. Selain itu, kantor Keamatan Pekalongan Barat, kelurahan, balai RW, hingga berbagai fasilitas umum lainnya juga telah difungsikan sebagai tempat penampungan sementara warga terdampak.

Seiring peningkatan status bencana, pemenuhan kebutuhan logistik menjadi tantangan serius bagi Pemkot Pekalongan. Saat ini, dapur umum dipusatkan di Kantor Dinas Sosial, dengan produksi makanan siap saji yang terus diupayakan maksimal.

Namun demikian, Wali Kota Aaf mengakui bahwa kapasitas dapur umum masih belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh pengungsi.

“Jumlah pengungsi terus bertambah, sementara rata-rata kita siapkan 1.500 porsi per jam makan,” jelasnya.

Selain dapur umum Dinsos, sebelumnya Kodim juga telah membuka dapur umum untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi warga terdampak. Meski sempat belum berjalan optimal, ia memastikan dapur umum Kodim akan kembali aktif membantu mulai siang hari.
Kondisi ini menunjukkan tekanan besar terhadap sistem logistik daerah di tengah situasi darurat yang masih berlangsung.

Di sisi lain, Pemkot Pekalongan juga terus berupaya menekan potensi banjir lanjutan. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, salah satunya terkait rencana modifikasi cuaca untuk menurunkan intensitas hujan.

“Saya sudah koordinasi dengan provinsi untuk modifikasi cuaca, mudah-mudahan ini berhasil,” ujarnya.

Ia menilai, langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko hujan ekstrem dalam beberapa hari ke depan, sehingga kondisi banjir tidak semakin memburuk dan proses penanganan darurat dapat berjalan lebih optimal.

Meski status tanggap darurat bencana banjir Kota Pekalongan telah ditetapkan, Wali Kota Aaf, menegaskan bahwa, kondisi di lapangan masih sangat dinamis.

Pendataan pengungsi terus dilakukan secara berkala, dan seluruh perangkat daerah diminta tetap siaga penuh menghadapi kemungkinan terburuk.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta saling membantu dalam menghadapi musibah banjir yang masih berlangsung,”tukasnya.

Artikulli paraprakWarga Kelurahan Kalibaros Kompak, Gotong Royong Perbaiki Tanggul Jebol Bersama Stakeholder
Artikulli tjetërWali Kota Aaf Lantik 37 Pejabat Tinggi Pratama hingga Fungsional, Tekankan Inovasi di Tengah Keterbatasan Anggaran

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini